Nama : MUHAMMAD BASIRRUDDIN
NIM : xxxx134819
Mata Kuliah : Sosiologi Politik
Prody : Ilmu Pemerintahan
Pendahuluan
Kenaikan harga BBM merupakan sebuah gejolak yang tidak henti-hentinya
menjadi perdebatan di berbagai kalangan. Mulai dari pengunjung setia warkop
sampai dengan presiden melontarkan berbagai opini pribadi terkait dengan harga
yang sering diistilahkan sebagai anchor price (dasar dari
kenaikan harga barang lain). Berbagai sudut pandang pun lahir dari kalangan
elite termasuk berbagai pakar bidang sosial, ekonomi, kesehatan, dan
pendidikan.
Kenaikan harga BBM bersubsidi dipicu oleh naiknya harga minyak
dunia. Kenaikan harga ini merupakan suatu hal yang wajar mengingat semakin
menipisnya persediaan minyak dunia dan konflik yang terjadi di negara-negara
timur tengah, yang notabene adalah kontributor besar minyak dunia.
Kajian
Kenaikan bahan bakar minyak merupakan jawaban pemerintah dari semakin
membengkaknya anggaran negara terhadap subsidi BBM. Hal ini terjadi akibat
melonjaknya harga minyak dunia serta penggunaan BBM yang melebihi kuota. Asumsi
negara untuk harga minyak dunia per barel adalah 95US$ sedangkan sekarang harga
ini telah menyentuh angka 120 US$.
Kenaikan harga BBM tidak dapat dipungkiri akan menguras banyak tenaga dan
pikiran untuk mencari cara terbaik dalam penyelesainnya. Opsi terakhir yang
dikeluarkan pemerintah adalah menaikkan harga BBM pada tarif Rp 6.000,00 per
liter. Jika hal ini tidak dilakukan maka anggaran APBN yang harus dialokasikan
untuk subsidi pada batas tarif Rp 4.500,00 per liter adalah sebesar Rp 178,62
trilliun. Pada kenaikan harga per liter sebesar Rp 1.500,00 akan menekan
subsidi sebesar Rp 41,25 trilliun. (dengan perhitungan harga miinyak mentah
dunia US$ 105 per barel, kurs Rp 9.000 per dolar AS, dan kota BBM 40 juta
kiloliter).
Jumlah penduduk yang terus mengalami peningkatan dan pertumbuhan ekonomi
yang terus berlangsung, tidak bisa dipungkiri akan berdampak kepada
peningkatan kebutuhan energi di Indonesia. Berdasarkan data Pusat
Penelitian Ekonomi-LIPI, tahun 1970, konsumsi energi primer hanya sebesar 50
juta SBM (Setara Barel Minyak). Tiga puluh satu tahun kemudian, tepatnya tahun
2001 konsumsi energi primer telah mencapai 715 juta SBM atau mengalami
pertumbuhan yang luar biasa yaitu sebesar 1330% atau pertumbuhan rata-rata
periode 1970-2001 sebesar 42.9%/tahun. Selain itu, menurut proyeksi permintaan
energi oleh BPTE-BPPT Puspiptek Indonesia, pada tahun 2025 permintaan energi
dari sektor transportasi juga akan terus meningkat bahkan hingga mencapai 350%.
Berdasarkan data IEO (Indonesia Energy Outlook) yang dikeluarkan oleh
Kementerian energi dan sumber daya mineral tahun 2009, konsumsi energi final
(tanpa biomasa untuk rumah tangga) dalam kondisi permintaan energi, regulasi,
serta tanpa adanya intervensi pemerintah diperkirakan tumbuh rata-rata 6,7% per
tahun, dengan konsumen terbesar sektorindustri (51,3%), diikuti oleh sektor
transportasi (30,3%), sektor rumah tangga(10,7%), sektor komersial (4,6%), dan
sektor PKP (3,1%). Adapun pangsapermintaan energi final menurut jenis terdiri
dari BBM (33,8%), gas (23,9%), listrik(20,7%), batubara (14,9%), LPG (2,6%),
BBN (2,9%), dan biomasa komersial(1,1%). Konsumsi energi ini tentu akan
berdampak kepada emisi CO2 yang dihasilkan. Berdasarkan prakiraan pertumbuhan
konsumsi energi di atas, emisi CO2 dari pembakaran energi sekitar 460 juta ton
pada tahun 2010akan terus mengalami peningkatan hingga mencapai 2.160 juta ton
pada tahun 2030. Hal ini akan sangat memprihatinkan, jika terus dibiarkan dapat
kita bayangkan betapa banyak dampak negatif yang akan timbul akibat peningkatan
emisi CO2 yang terus terjadi ini.
Dalam kondisi krisis energi yang terus melanda serta emisi CO2 yang terus
meningkat, tentu keadaan iniakan sangat mengkhawatirkan. Pemerintah sebagai
regulator dan pengendali kebijakan perlu memahami pola konsumsi energi yang
tengah terjadi. Selain itu, masyarakat sebagai konsumen sudah semestinya turut
berperan serta dalam upaya penghematan dan diversifikasi pemakaian energi serta
pengurangan emisi CO2.
Persentase konsumsi BBM terhadap total pemakaian energi final merupakan
yang terbesar dan terus mengalami peningkatan. Konsumsi BBM yang sangat
tinggi tentu berkaitan dengan keterlambatan upaya diversifikasi ke energi
non minyak. Hal ini tak bisa dipungkiri juga merupakan sebuah dampak harga BBM
yang masih relatif murah dengan adanya subsidi dari pemerintah. Kebijakan
pemberian subsidi BBM yang bermaksud menjaga stabilitas perekonomian nasional
ternyata telah keluar dari tujuan awalnya. Dalam realitanya, subsidi BBM telah
menimbulkan berbagai persoalan. Masyarakat cenderung boros menggunakan BBM
bahkan alokasi subsidi BBM cenderung lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat
berpenghasilan tinggi yang seharusnya tidak perlu mendapatkan subsidi. Selain
itu, tahukah Anda, jumlah anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk subsidi
energi sama besarnya dengan total seluruh pengeluaran di bidang pertahanan,
pendidikan, kesehatan, dan jaminan sosial? Hingga 2010, pemerintah Indonesia
mengeluarkan dana lebih besar untuk subsidi energi dari pada jumlah yang
dikeluarkannya untuk belanja pertahanan, pendidikan, kesehatan, dan jaminan
sosial. Sebelum 2009, pengeluaran pemerintah untuk subsidi energi lebih besar
dari pada pengeluaran modal untuk infrastruktur publik, sistem transportasi,
serta fasilitas air dan sanitasi. Tahun lalu, meskipun pemerintah telah
melakukan peningkatan pengeluarannya di bidang lain, namun subsidi energi masih
tergolong tinggi.
Kebijakan pengurangan subsidi BBM memang akan menuai berbagai polemik.
Namun, ditinjau dari sisi energi, hal ini akan menjadi momentum yang tepat bagi
pemerintah untuk mengembangkan berbagai energi alternatif yang prospeknya akan
lebih menjanjikan, gas bumi misalnya. Baik dilihat dari segi cadangan yang
masih melimpah maupun dari harga yang relatif lebih murah dibandingkan BBM. Selain
itu, kebijakan pengurangan subsisi BBM tentu akan mampu mendorong masyarakat
lebih hemat dalam menggunakan energi serta menunjang diversifikasi pemakaian
energi. Hal ini akan mampu mengatasi berbagai krisis energi yang tengah
terjadi. Di samping itu, pengurangan konsumsi energi juga akan mampu membantu
dalam pengurangan emisi yang tentu juga harus menjadi perhatian. Pengurangan
subsidi ini diharapkan bisa dialokasikan untuk penelitian dan pengembangan bahan
bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan. Dana sebesar itu bisa
dimanfaatkan untuk berbagai hal yang jauh lebih produktif.
Salah satu alternatif dampak penanganan terhadap kenaikan harga ini adalah
pemberlakuan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) sebesar Rp
150.000 per kepala keluarga. Tidak sedikit ekonom yang menyayangkan adanya
program seperti ini karena sebenarnya berujung pada pemborosan akibat sasaran
yang kurang tepat. Meskipun dana ini ditujukan untuk mencegah jatuhnya daya
beli masyarakat akibat kenaikan harga barang yang akan terjadi karena inflasi,
maraknya penyimpangan pada masa Bantuan Langsung Tunai membuat pengamat ragu
akankah program ini mencapai sasarannya. Namun, solusi jangka pendek untuk
mengatasi shock akibat kenaikan bbm yang akan terjadi tak bisa dipungkiri yang
paling mungkin untuk diberikan masih BLSM. BLSM sebagai sebuah transfer
payment yang dilakukan pemerintah kepada warganya sebenarnya sudah
sangat umum terjadi di negara-negara lain, bahkan di negara maju seperti
Amerika Serikat. Yang sering menjadi persoalan BLSM menjadi tidak tepat sasaran
adalah karena adanya berbagai kendala teknis serta reformasi birokrasi di
negeri ini yang masih bermasalah. Oleh karena itu, yang harus dilakukan di saat
BBM telah mengalami kenaikan adalah menjaga dan mengawasi agar implementasi
BLSM ini dilaksanakan dengan benar dan tepat sehingga BLSM dapat mencapai
tujuan awalnya dan mampu menjadi solusi jangka pendek terhadap kenaikan harga
BBM ini.
Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang mulai menurun, diikuti
dengan rencana yang kontroversional membuat kondisi di masyarakat menjadi
semakin tidak kondusif. Hal ini cenderung dimanfaatkan oleh beberapa pihak
untuk memperoleh dukungan dari masyarakat. Pandangan-pandangan yang dibuat
seakan pro-rakyat dikemukakan dengan berbagai motivasi, ada yang memang karena
sejalan pendapatnya, ada yang sekedar untuk memanfaatkan momen. Karena sungguh
jika ditinjau dari sisi politik maka kebijakan pengurangan subsidi BBM
ini merupakan kebijakan yang terbilang sangat tidak populis. Sangat disayangkan
jika para politikus di negeri ini malah memanfaatkan momen ini sebagai
kesempatan untuk unjuk gigi di tengah keresahan masyarakat terhadap kenaikan
BBM ini.
Dengan kenaikan BBM tentunya akan timbul masalah-masalah terutama yang
disebabkan faktor ekonomi. Kenaikan BBM tentuakan disertai kenaikan bahan-bahan
lainnya seperti pangan, listrik, transportasi dan bahan lainnya. Selain itu,
kenaikan BBM juga akan berdampak terutama pada masyarakat yang hidup di
garis kemiskinan, seperti meningkatnya pengangguran, rakyat tidak mendapatkan
pelayanan sosial (social service) yang baik, jaminan sosial (social Insurance)
berkualitas, akses pendidikan dan kesehatan yang murah dan berkualitas, serta
proteksi terhadap sandang-pangan-papan yang memadai.Hal inilah yang perlu
menjadi perhatian bagi pemerintah.Penyimpangan subsidi yang ada serta besarnya
potensi yang dimiliki dari penghematan BBM hendaknya disikapi dengan lebih
bijak. Bagaimanapun juga, meski bisa digunakan untuk produksi, subsidi BBM
tidak lain hanyalah sebuah bahan baku. Selain BSM sebagai solusi jangka pendek
yang dapat ditawarkan.Pembangunan di Indonesia memerlukan akselerasi.
Penambahan ruas dan perbaikan jalan, penambahan modal transportasi, serta
penyediaan pendidikan untuk semua lapisan masyarakat tentunya akan menjadi
investasi besar bagi kemajuan negara ini.
Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, menerima kebijakan pemerintah
untuk melakukan pengurangan subsidi BBM diharapkan dapat menjadi jawaban atas
berbagai persoalan ini.
Kenaikan harga BBM memang pada dasarnya tidak dapat dipungkiri sehubungan
dengan berbagai faktor-faktor baik internal dan eksternal yang menekan
perekonomian negara.Meroketnya hutang akibat peningkatan ABPN yang harus
dialokasikan untuk subsidi BBM.Selain itu, demi mewujudkan peningkatan daya
beli masyarakat dan kemandirian perlu adanya upaya untuk terus merangsang masyarakat
demi tidak berpangkunya pada subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Dengan
mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, menerima kebijakan pemerintah untuk
melakukan pengurangan subsidi BBM diharapkan dapat menjadi jawaban atas
berbagai persoalan ini. Namun, ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan
untuk diperhatikan dan dilakukan pemerintah :
- Subsidi
khusus serta perbaikan sarana dan prasarana transportasi umum sebagai
sebuah solusi dampak yang akan dirasakan langsung oleh rakyat kecil yang
juga mampu mendorong pemanfaatan transportasi umum yang lebih baik.
- Pelaksanaan
teknis yang tepat sasaran dan efisien dalam menjalankan BLSM yang disertai
dengan evaluasi dan pengawasan yang ketat terhadap birokrasi yang
menyelenggarakan BLSM.
- Transparansi
penggunaan potongan subsidi, penghematan anggaran di sektor lain, serta
melakukan pengawasan yang ketat agar tidak terjadi kebocoran anggaran.
- Alokasi
penggunaan subsidi untuk hal yang lebih produktif. Pembangunan
infrastruktur seperti penambahan ruas dan perbaikan jalan, penambahan
modal transportasi, serta penyediaan pendidikan untuk semua lapisan
masyarakat tentunya akan menjadi investasi besar bagi kemajuan negara ini.
- Mendorong
dan memfasilitasi pengembangan dan penerapan berbagai energi alternatif
yang prospeknya akan lebih menjanjikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar